Fakta Unik Sekolah AS

Fakta Unik Sekolah AS5 Fakta Sekolah di AS Tahun 1800-an, Guru Bisa ‘Nginep’ di Rumah Siswa

Fakta Unik Sekolah AS

Fakta Unik Sekolah AS Memiliki kualitas pendidikan yang bagus merupakan salah satu ciri utama sebuah negara bisa dikatakan negara maju. Untuk itu, pemerintah Indonesia terus berupaya menciptakan sistem pendidikan yang semakin baik setiap waktunya.

Seperti mewajibkan peserta didik untuk bersekolah selama 12 tahun dari SD, SMP, SMA. Selain itu adanya kurikulum Merdeka Belajar yang memungkinkan siswa menekuni bidang sesuai bakat dan minatnya.

Tapi bagaimana dengan keadaan sekolah di masa lalu? Di Indonesia, kita mengenal Ki Hajar Dewantara sebagai sosok yang berjasa dalam sistem pendidikan Indonesia.

Mengutip arsip detikEdu, pada masa penjajahan Belanda, pendidikan menitikberatkan pelajaran mengenai bangsa Belanda. Sehingga memunculkan pertentangan dari sejumlah pendidik yang menginginkan pendidikan yang bersifat nasionalis.

Akhirnya timbul sekolah swasta nasional termasuk yang dibuat Ki Hajar Dewantara bernama Taman Siswa. Sekolah ini didirikan di Yogyakarta pada 3 Juli 1992 untuk mendidik golongan muda serta menanamkan rasa nasionalisme.

Namun, bila kita mundur lagi pada tahun 1800-an bagaimana keadaan sekolah di luar Indonesia? Berikut fakta-faktanya dikutip dari laman Mental Floss.

5 Fakta Keadaan Sekolah di Tahun 1800-an

1. Diajarkan dalam satu ruangan

Fakta Unik Sekolah AS Pada abad ke-19 dan awal abad ke-20, gedung sekolah di Amerika Serikat hanya memiliki satu ruangan. Seorang guru mengajar kelas satu sampai delapan SMP secara bersama-sama.

Siswa kelas termuda akan duduk di depan dan di sebut dengan Abecedarian karena mereka hanya mempelajari ABC. Sedangkan semakin tua mereka akan duduk di belakang.

Baca juga: Guru Takut dengan Murid

2. Di pisahkan secara gender dan tahun ajaran lebih singkat

Di beberapa sekolah, anak laki-laki dan perempuan masuk melalui pintu yang terpisah. Mereka juga kerap di pisahkan selama pelajaran berlangsung.

Selain itu tahun ajaran juga berjalan lebih singkat. Departemen Pendidikan Amerika Serikat pertama kali mengumpulkan data mengenai mata pelajaran pada tahun ajaran 1869/1870.

Hasilnya di temukan bila siswa hanya bersekolah selama 132 hari atau lebih tergantung dengan jadwal siswa membantu keluarga. Pada hari sekolah, mereka akan mulai belajar pada jam 9 pagi dan berakhir di jam 2 siang atau 4 sore tergantung wilayah siswa tinggal.

3. Guru terkadang tinggal bersama keluarga siswanya

Guru terkadang ikut tinggal bersama keluarga siswanya. Praktik ini menurut Michael Day dari Country School Association of America di sebut dengan ‘boarding round’ yang berjalan setiap minggu.

Sebuah cerita terkait praktik ini di tulis oleh seorang guru di Wisconsin pada tahun 1851, yang berbunyi:

“Saya merasa sangat tidak menyenangkan terutama selama musim dingin dan musim semi. Selama satu minggu saya akan menginap di tempat yang nyaman, tetapi minggu berikutnya kamarku sangat terbuka sehingga salju bisa masuk. Di sebagian tempat, saya bisa merasakan sprei dari flanel untuk tidur tetapi lainnya kapas. Bagian yang paling tidak menyenangkan dari hal ini adalah berjalan melewati salju dan air. Saya sangat menderita karena pilek dan batuk.”

4. Sangat disiplin

Bila siswa melakukan tindakan yang melanggar aturan pada masa ini, ia akan mendapatkan hukuman yang menyeramkan. Dari penahanan, skorsing, pengusiran, hingga hukuman cambuk.

Salah satu hukuman terlihat dalam aturan Dewan Pendidikan di Franklin, Ohio tahun 1883. Aturan itu menjelaskan guru bisa melakukan penahanan untuk pelajaran tambahan untuk penegakan disiplin.

Selain itu, guru juga bisa menerapkan hukuman fisik tetapi tidak boleh di jatuhkan pada kepala atau tangan murid. Namun, tidak semua wilayah memiliki aturan serupa.

5. Tingkat tertinggi adalah kelas delapan

Seperti saat ini, untuk bisa lulus dari sekolah siswa harus lulus dari ujian akhir. Ujian akhir ini berada di kelas delapan atau kini berada di jenjang SMP.

Itulah keadaan sekolah di tahun 1800-an di Amerika Serikat. Jadi, siswa jangan sia-siakan pendidikanmu yang baik saat ini ya!

Guru Takut dengan Murid

Benarkah Guru Takut dengan Murid Anak Orang Kaya?

Guru Takut dengan Murid

Sedang ramai perundungan di sekolah internasional. Biaya sekolah yang mahal dan mengadopsi kurikulum internasional tak menjamin sekolah internasional bebas dari aksi kekerasan. Apa saja tantangan guru di sekolah internasional?

Putri pengusaha yang juga podcaster, dalam akun X-nya menceritakan pengalamannya survei di sekolah internasional, di mana banyak muridnya adalah anak-anak pejabat, pengusaha dan pesohor. Mendapati siswa-siswa di sekolah internasional bebas berbicara kasar di muka umum. Grace sempat menanyakan dan mengkonfirmasi kepada salah satu lulusan sekolah internasional itu.

Grace menceritakan sempat bertanya pada anak muda salah satu lulusan sekolah internasional itu. Pertanyaannya, apakah benar guru-guru di sekolah internasional itu takut pada murid karena statusnya sebagai anak pejabat dan orang kaya? Anak muda itu membenarkan pertanyaan Grace.

Adanya fenomena guru-guru di sekolah internasional takut dengan murid karena orang tuanya punya uang dan kekuasaan ini, Ketua Yayasan Guru Belajar (YGB) Bukik Setiawan mengatakan pendidikan Indonesia masih punya PR besar untuk mengembangkan lingkungan belajar yang nyaman dan aman dari kekerasan.

Baca juga: Guru Alami Banyak Tantangan

“Hasil Asesmen Nasional menunjukkan bahwa guru yang tergolong baik dalam melakukan pengelolaan kelas atau lingkungan belajar hanya 1%. Pada sisi lain, Asesmen juga menunjukkan 36% murid berpotensi mengalami perundungan. Artinya, secara umum sekolah-sekolah kita memang berisiko besar terjadinya kekerasan,” kata Bukik pada detikEdu, Jumat (24/2/2024)

Benarkah Guru Takut dengan Murid Anak Orang Kaya? Tantangan dan Realitas

Bukik mengatakan, kondisi tersebut menjadi lebih kompleks pada sekolah dengan orangtua yang punya kuasa lebih seperti pejabat publik, tokoh publik, atau status ekonomi tinggi. Dalam hal ini, pengambilan keputusan dan tindakan berdasarkan peraturan perundang-undangan, peraturan sekolah, hingga kode etik guru dan etika umum menjadi tantangan bagi guru.

“Orang tua yang punya kuasa mempunyai kuasa lebih besar, baik kuasa karena kapasitas personal maupun kuasa karena jejaringnya. Tantangan bagi guru untuk mengambil keputusan dan bertindak berdasarkan dasar yang kuat baik itu regulasi negara, peraturan sekolah, kode etik guru maupun etika umum. Karena tanpa dasar yang kuat, keputusan atau tindakan guru akan mudah dipertanyakan bahkan digugat oleh mereka,” jelasnya.

Menjaga posisi tawar guru di hadapan orang tua dengan kuasa lebih menurut Bukik juga merupakan tantangan bagi pendidik. Ia mengingatkan, guru perlu menjaga kredibilitasnya di mata orang tua maupun siswa.

“Orangtua yang punya kuasa mempunyai pesona yang jauh lebih besar baik dari apa yang digunakan, perilaku dan kebiasaannya hingga pribadinya. Tantangan bagi guru untuk tidak terpengaruh oleh pesona tersebut. Karena begitu terpesona, maka posisi tawar guru akan menjadi lebih rendah. Guru akan kehilangan kredibilitas di mata orangtua maupun anaknya,” jelasnya.

Ia menambahkan, keterbatasan waktu orang tua tersebut untuk mendampingi pembelajaran anak dan berinteraksi dengan guru juga jadi tantangan tersendiri. Untuk itu, guru perlu menyiasati komunikasi lebih efektif dengan orang tua tersebut.

Interaksi dengan orang tua dengan kuasa lebih menurutnya juga jadi tantangan bagi guru. Guru perlu memastikan dirinya memberi respons yang tepat atas aspirasi orang tua siswa dan menyusun argumentasi yang di sertai bukti.

“Orangtua yang punya kuasa sering berinteraksi sehingga lebih pintar berbicara. Tantangan bagi guru adalah memberikan respon yang tepat terhadap aspirasi, tuntutan atau tanggapan dari orangtua yang punya kuasa. Guru perlu berpikir lebih keras menyusun argumentasi di sertai bukti,” terangnya.

Guru Alami Banyak Tantangan

Kemendikbud Sebut Guru Alami Banyak Tantangan, Apa yang Terbesar?

Guru Alami Banyak Tantangan

Guru Alami Banyak Tantangan Sebagai sosok yang berperan penting dalam proses mencerdaskan, membimbing, dan membangun karakter bangsa. Guru di Indonesia nyatanya masih alami banyak tantangan. Tantangan itu terutama dalam hal proses belajar mengajar peserta didik.

Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Prof Dr Nunuk Suryani MPd menyebutkan pendidik memiliki banyak tantangan mulai dari pemerataan guru. Peningkatan kesejahteraan guru, hingga jaminan kepastian mereka menjadi PPPK/PNS/ASN.

Namun di antara banyaknya tantangan yang di hadapi guru, tantangan terbesar datang dari proses pembelajaran siswa. “Terutama terkait langkah yang harus di lakukan guru dalam menciptakan pembelajaran yang menarik. Bisa menggali potensi dan mewujudkan impian siswa untuk berkembang sesuai potensinya,” ujarnya.

Hal tersebut di sampaikan Prof Nunuk dalam sesi talkshow berjudul “Menjadi Pemimpin Pendidikan yang Berdaya” di acara Pembukaan Temu Pendidik Nusantara XI, Sabtu (24/2/2024) di Pos Bloc Jakarta, Jakarta Pusat.

Meski begitu, setelah implementasi Kurikulum Merdeka Belajar dan partisipasi guru, kepala sekolah serta pengawas tantangan tersebut mulai berkurang. Bahkan impian siswa mulai terwujud.

“Kini mimpi murid-murid kita mulai terwujud seperti pembelajaran yang menyenangkan, berpusat pada siswa, fasilitas/sarana memungkinkan dan guru memiliki kesempatan untuk melakukan hal itu,” jelas Nunuk.

Langkah Atasi Tantangan Guru

Sebagai pembuat kebijakan, Nunuk menjelaskan bila ada program populer Kemendikbudristek yang telah berjalan tiga tahun lamanya, yakni Pendidikan Guru Penggerak.

Program tersebut menjadikan guru sebagai pemimpin pembelajaran dan agen transformasi perubahan. Selain itu, guru juga di berikan bekal untuk menggerakan ekosistem belajar siswa.

Selain itu, Kemendikbudristek juga memfasilitasi guru dengan Pengelolaan Kinerja yang melibatkan peran penting kepala sekolah. Terutama dalam mengarahkan dan membimbing guru untuk melakukan pembelajaran yang berpusat pada siswa.

“Kalau dulu pengukuran kinerja guru diukur dari setumpuk kertas, sekarang cukup lakukan pembelajaran yang berdiferensiasi, berpusat pada siswa, di bimbing oleh kepala sekolah dan di pastikan guru melaksanakannya dengan benar melalui observasi di kelas,” ungkapnya.

Baca juga: Bullying di Sekolah Internasional

Berbagai kegiatan itu di sebutkan Nunuk sudah di lakukan Kemendikbudristek sebagai seorang pemimpin.

“Jadi kita memastikan gurunya bergerak bersama, melaksanakan pembelajaran yang berpusat pada siswa dan memastikan siswanya bisa berdaya,” pungkas Nunuk.

Guru Alami Banyak Tantangan dalam Profesinya

Profesi menjadi seorang guru merupakan panggilan yang membutuhkan komitmen, dedikasi, dan kesabaran yang tinggi. Meskipun menjadi salah satu profesi yang penuh penghargaan, menjadi seorang guru juga berarti menghadapi banyak tantangan yang kompleks. Dalam perjalanan karir mereka, guru-guru sering kali dihadapkan pada berbagai situasi yang membutuhkan penyesuaian dan inovasi.

Salah satu tantangan utama yang di hadapi oleh para guru adalah kesenjangan dalam kemampuan siswa. Setiap kelas terdiri dari siswa-siswa dengan latar belakang, minat, dan kemampuan yang beragam. Guru harus mampu menciptakan lingkungan pembelajaran yang inklusif dan memenuhi kebutuhan belajar setiap siswa. Ini bisa menjadi tantangan yang besar, terutama di kelas-kelas yang memiliki rentang kemampuan yang luas.

Selain itu, perubahan dalam kurikulum dan kebijakan pendidikan juga menjadi tantangan tersendiri bagi para guru. Guru harus terus menerus memperbaharui pengetahuan mereka dan menyesuaikan metode pengajaran mereka agar sesuai dengan perubahan tersebut. Hal ini membutuhkan waktu, usaha, dan dukungan yang besar dari berbagai pihak.

Bullying di Sekolah Internasional

Bullying di Sekolah Internasional Viral di Media Sosial

Bullying di Sekolah Internasional Media sosial di hebohkan dengan isu kasus bullying di salah satu sekolah internasional kawasan BSD, Tangerang Selatan. Yang membuat heboh warganet karena salah satu pelaku bullying adalah anak artis terkenal.

Kasus bullying di Sekolah Internasional tersebut di sebar oleh akun Twitter (X) @BosPurwa. Yang mengunggah ulang kronologi dari kasus bullying yang di ceritakan oleh ibu dari korban. Di kutip dari akun @BosPurwa, Senin (19/2/24). Bullying di Sekolah Internasional Kawasan Serpong menyebabkan satu korban harus di rawat di rumah sakit.

“Gue dapat info, ada perundungan di Sekolah Internasional Kawasan Serpong. Seorang anak di pukuli sama belasan seniornya hingga masuk rumah sakit, mereka anak-anak pesohor. Dan ngerinya lagi sampai di sundut rokok!” katanya.

Dari akun tersebut juga terdapat penjelasan lengkap kasus dari tangkapan layar akun Instagram oran tua korban perundungan. Korban di duga adalah adik kelas yang di rundung oleh satu geng terkenal kakak kelasnya. Pemilik kuasa geng yang di duga menjadi pelaku perundungan.

“Dalam subkultural ini, senior atau kelas 12 disebut agit, mereka mengendalikan semua yang ada di geng,” kata ibu korban. Di kutip dari tangkapan layar unggahannya. Salah satu cara perekrutan anggota geng tersebut adalah mencari anak-anak yang ingin gabung ke dalam geng dan dapat imbalan, seperti di tawari uang, akses ke tempat parkir, hingga jabatan dalam geng.

Baca juga: Pahami 6 Bentuk Kekerasan

Marak Bullying di Sekolah

“Imbalan untuk bergabung dengan geng ini bervariasi, seperti di tawari uang untuk bergabung, memiliki akses ke tempat parkir dekat Sekolah Internasional Kawasan Serpong. Namun imbalan utama yang membujuk orang untuk bergabung adalah status di sekolah,” jelasnya.

Akun tersebut juga menyebut bahwa korban mengalami kekerasan fisik, seperti di pukul, di cekik, di ikat di tiang, serta di tonton oleh anak-anak yang lainnya.

“Di cekik dan di pukul, orang-orang yang hadir tertawa saat mengambil gambar dan video pemukulan, ada juga yang sambil makan, di ikat di tiang, di pukul menggunakan kayu… Mereka menganggapnya lucu dan itu tidak berakhir di sana,” tambahnya.

Melihat kasus bullying di Sekolah Internasional yang sedang ramai jadi perbincangan tersebut, membuat publik bertanya-tanya mengenai sosok pelaku yang sudah melukai adik kelasnya sendiri.

Beberapa warganet menduga-duga sosok pelaku yang disebut adalah anak artis terkenal, yang menjadi salah satu anggota geng.

“Anak-anak itu salah satunya kalau gak salah anaknya artis V****nt R***pies namanya L*****s R****** anak kelas 12 di B**** School Serpong, mereka menghabisi anak itu tanpa ampun sampai kulitnya terbakar di sundut rokok dan tidak hanya itu di pukul pakai kayu ramai-ramai,” tulis @ErikEstxxxxxxxx.

“Gak heran sih, bapak dan pamannya dulu berantem lebih gila dari ini kok, zaman masih main di poster dulu,” balas @Bicaxxxx. “Mamanya korban udan cerita di Instagram dia, para pelaku udah gak boleh masuk sekolah sejak 15 Februari. Di DO dan di suspend tergantung keterlibatkan. Iya salah satu tersangkanya anak artis.

Pahami 6 Bentuk Kekerasan

Pahami 6 Bentuk Kekerasan yang terjadi di Sekolah

Pahami 6 Bentuk Kekerasan

Pahami 6 Bentuk Kekerasan yang Terjadi di Sekolah –  Beberapa waktu ini heboh berita tentang bullying yang terjadi di salah satu sekolah swasta di Tangerang, Banten. Namun beredar video aksi kekerasan terhadap siswa sekolah tersebut di media sosial.

Hal tersebut tentu membuat orangtua menjadi khawatir tentang keadaan buah hati mereka di sekolah.

Untuk menekan dan mencegah kekerasan kembali terjadi di lingkungan sekolah, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek). Menerbitkan Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023 Tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan.

Namun satu cara untuk mencegah kekerasan atau bullying tersebut adalah dengan memahami apa saja bentuk kekerasan yang bisa terjadi di sekolah.

Dengan memahami bentuk-bentuk bullying, namun di harapkan orangtua dan siswa bisa lebih waspada terhadap kekerasan di sekolah.

Merangkum Instagram Direktorat Jenderal Pendidikan Sekolah Dasar Kemendikbud Ristek, berikut ini bentuk kekerasan yang harus di pahami siswa dan orangtua.

Bentuk bullying di sekolah

  • Kekerasan fisik

Bentuk kekerasan fisik yakni tindakan melukai orang lain seperti memukul, menendang, berkelahi, terlibat tawuran dan tindakan menyakiti anggota badan lainnya.

  • Kekerasan psikis

Tindakan yang termasuk dalam kekerasan psikis adalah menghina, menakut-nakuti atau membuat perasaan orang lain tidak nyaman. Seperti mengejek nama panggilan, mempermalukan, memfitnah orang lain.

  • Perundungan/bullying

Menyakiti tubuh dan perasaan orang lain yang di anggap lebih lemah atau berbeda secara berulang kali. Seperti teman atau kakak kelas yang sering meminta uang atau barang secara paksa. Atau guru yang selalu meledek siswa di depan kelas karena tidak bisa menjawab soal.

  • Kekerasan seksual

Perbuatan yang termasuk dalam bentuk kekerasan seksual yakni merendahkan, menghina, melecehkan, menyerang, mempertontonkan atau memotret area pribadi tubuh seseorang. Seperti mulut, dada, alat kelamin dan pantat karena ketimpangan relasi kuasa dan gender.

  • Diskriminasi dan intoleransi

Membedakan, memilih-milih atau membatasi orang lain latar belakang yang berbeda. Namun Seperti suku/etnis, agama, kepercayaan, warna kulit, bentuk rambut, jenis kelamin, kemampuan akademik, mental, fisik dan lainnya.

  • Kebijakan yang mengandung kekerasan

Peraturan yang berpotensi atau menimbulkan terjadinya kekerasan yang di lakukan oleh guru, tenaga kependidikan, anggota komite sekolah, kepala sekolah dan atau kepala dinas pendidikan.

Baca juga: Sekolah Juara Membangun Prestasi

Sekolah seharusnya menjadi lingkungan yang aman dan mendukung bagi semua siswa. Namun, dalam beberapa kasus, kekerasan dapat terjadi di dalam sekolah, mengancam kesejahteraan siswa dan staf pendidik. Penting bagi kita untuk memahami berbagai bentuk kekerasan yang dapat terjadi di lingkungan sekolah dan langkah-langkah yang dapat di ambil untuk mencegahnya.

Mengidentifikasi dan mengatasi berbagai bentuk kekerasan di sekolah merupakan tanggung jawab bersama siswa, staf pendidik, dan pihak sekolah. Langkah-langkah pencegahan seperti pengembangan kebijakan anti-kekerasan, pendidikan tentang hubungan sehat, serta pembentukan lingkungan yang inklusif dan aman dapat membantu melindungi siswa dan menciptakan lingkungan belajar yang positif dan produktif. Dengan meningkatkan kesadaran dan berkolaborasi, kita dapat mengurangi kekerasan di sekolah dan menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan semua individu.

Sekolah Juara Membangun Prestasi

Sekolah Juara Membangun Prestasi

Sekolah Juara Membangun Prestasi

Sekolah Juara Membangun Prestasi Pendidikan adalah fondasi penting dalam pembentukan individu dan masyarakat yang maju. Di tengah dinamika pendidikan di Indonesia, sekolah memiliki peran strategis dalam membentuk prestasi. Salah satu bentuk sekolah yang berhasil mencetak prestasi adalah sekolah juara. Sekolah juara bukan hanya sekadar tempat belajar, tetapi juga menjadi tempat di mana bakat-bakat terpendam di temukan dan di kembangkan. Dalam artikel ini, kita akan mengulas bagaimana sekolah juara membangun prestasi.

Pertama-tama, sekolah juara memfokuskan pada pengembangan potensi siswa. Mereka tidak hanya mengutamakan pencapaian akademis, tetapi juga menggali bakat-bakat khusus siswa dalam berbagai bidang seperti seni, olahraga, dan sains. Setiap siswa di hargai sebagai individu yang memiliki potensi unik yang perlu di temukan dan di perkaya.

Selain itu, lingkungan belajar yang mendukung juga menjadi ciri khas sekolah juara. Mereka menciptakan atmosfer yang memotivasi siswa untuk berprestasi. Guru-guru di sekolah ini tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai mentor yang memberikan dukungan moral dan motivasi kepada siswa untuk meraih prestasi terbaiknya.

Sekolah juara juga memiliki kurikulum yang komprehensif dan relevan. Mereka tidak hanya fokus pada pelajaran teori, tetapi juga memperkenalkan keterampilan praktis yang relevan dengan dunia kerja. Dengan demikian, siswa tidak hanya di bekali dengan pengetahuan akademis, tetapi juga siap untuk bersaing di dunia nyata setelah lulus.

Membangun Prestasi Melalui Pendekatan Holistik

Secara keseluruhan, menjadi sekolah juara bukanlah hal yang mudah, tetapi dengan pendekatan holistik dalam pendidikan, setiap sekolah memiliki potensi untuk menjadi juara. Sekolah juara bukan hanya tentang meraih prestasi akademik tinggi, tetapi juga tentang membentuk karakter, mengembangkan kreativitas, dan memperkuat kepemimpinan siswa. Dengan demikian, sekolah tidak hanya menjadi tempat untuk belajar, tetapi juga menjadi wadah untuk membentuk generasi unggul yang siap menghadapi tantangan di masa depan.

Keterlibatan orang tua juga menjadi faktor kunci dalam keberhasilan sekolah juara. Orang tua di undang untuk terlibat aktif dalam proses pendidikan anak-anak mereka, baik melalui kegiatan di sekolah maupun di rumah. Kolaborasi antara sekolah dan orang tua memperkuat dukungan yang di berikan kepada siswa, sehingga membantu mereka mencapai prestasi yang optimal.

Selain itu, sekolah juara sering kali memiliki fasilitas yang memadai dan dukungan dari berbagai pihak, baik itu pemerintah, lembaga swasta, maupun masyarakat sekitar. Dengan fasilitas yang memadai, siswa dapat menjalani proses belajar mengajar dengan optimal, tanpa terkendala oleh faktor-faktor eksternal.

Terakhir, sekolah juara tidak hanya fokus pada pencapaian individu, tetapi juga memupuk semangat kolaborasi dan kompetisi sehat di antara siswa. Mereka mengadopsi pendekatan pembelajaran yang berbasis proyek atau tim, di mana siswa diajak untuk bekerja sama dalam menyelesaikan tugas-tugas yang menantang. Hal ini tidak hanya mengasah keterampilan sosial siswa, tetapi juga mempersiapkan mereka untuk menghadapi dinamika dunia kerja yang kian kompleks.

Secara keseluruhan, sekolah juara memiliki filosofi dan pendekatan yang berbeda dalam membentuk prestasi. Mereka tidak hanya fokus pada aspek akademis, tetapi juga mengembangkan bakat-bakat khusus siswa, menciptakan lingkungan belajar yang mendukung, melibatkan orang tua, memanfaatkan fasilitas dan dukungan eksternal, serta memupuk semangat kolaborasi dan kompetisi sehat di antara siswa. Dengan demikian, sekolah juara mampu membentuk individu yang berprestasi dan siap menghadapi tantangan di masa depan.